Wednesday, February 25, 2009

UCL : Inter vs MU Tanpa Gol


Milan - Tak ada yang keluar sebagai pemenang saat Inter Milan menjamu Manchester United di leg pertama babak 16 besar Liga Champions. Kedua kesebelasan bermain imbang 0-0.

Di Giuseppe Meazza, Rabu (25/2/2009), Inter justru lebih banyak tertekan di awal laga. Kalau bukan karena kesigapan kiper Julio Cesar yang beberapa kali membuat penyelamatan gemilang, laga ini bisa berakhir dengan skenario yang berbeda.

Hasil tanpa gol ini jelas menjadi kerugian besar buat Nerazzurri yang gagal memaksimalkan peluang bermain di kandang. Di leg kedua yang akan dihelat di Old Trafford pada 11 Maret mendatang anak asuh Jose Mourinho harus memetik kemenangan atau bermain imbang dengan gol untuk bisa meraih tiket ke babak delapan besar.

Jalannya pertandingan

Sejak menit awal pertandingan MU justru lebih mendominasi permainan. The Red Devils terlihat lebih tenang baik dalam menyusun serangan maupun saat membangun tembok pertahanan yang membuat mereka unggul hampir di semua lini di sepanjang 45 menit pertama.

MU, yang cuma mengandalkan Dimitar Berbatov sebagai striker tunggal, setidaknya punya lima peluang matang menjadi gol di paruh pertama pertandingan. Hanya kegemilangan kiper Julio Cesar yang membuat Inter terhindar dari kebobolan.

MU lebih dulu membuka peluang saat tendangan bebas Cristiano Ronaldo jauh di luar kotak penalti mengarah tepat ke pelukan kiper Julio Cesar. Beberapa menit berselang winger Portugal itu kembali punya peluang saat menyambut tendangan sudut Ryan Giggs, namun tandukan CR7 dari tengah kotak penalti diantisipasi dengan sangat baik oleh Cesar.

Sepuluh menit pertama masih menjadi milik tim tamu menyusul usaha tendangan bebas kedua Ronaldo yang kali ini melenceng tipis ke sisi kiri gawang. Belum ada ancaman serius ke gawang Edwin van Der Sar, shoot on goal pertama Inter baru datang di menit 12, itupun dengan bola hasil tendangan Dejan Stankovic melayang jauh di atas gawang "Setan Merah".

Menit 19 Berbatov lolos dari perangkap offside saat mengejar umpan Giggs, upayanya mengirim bola ke tengah kotak penalti di mana Park ji Sung menunggu gagal karena bola dihadang tiga pemain Inter yang terlambat datang ke kotak penalti. Dua menit berselang gantian Giggs yang gagal memanfaatkan peluang saat dia tak mampu menguasai bola dengan baik di muka gawang.

MU kembali punya peluang matang di menit 25 melalui Giggs. Lolos dari kawalan Nelson Rivas, pesepakbola Wales gagal menaklukkan Cesar saat tinggal berhadapan satu lawan satu, tendangan kerasnya dihadang sang kiper sambil menjatuhkan diri.

Semenit berselang Ronaldo memiliki dua peluang beruntun, setelah tendangan bebasnya ditepis Cesar dengan susah payah, tandukan CR7 meleset tipis dari bidang sasaran.

Inter langsung menggebrak di awal babak kedua, baru dua menit laga berjalan Adriano menebar ancaman saat tendangannya dari tengah kotak penalti melayang tak jauh dari sasaran. Upaya kedua striker Brasil itu saat akan menanduk bola gagal karena dihalangi Rio Ferdinand, hal mana sempat membuat pemain Inter menuntut penalti karena menganggap terjadi pelanggaran dalam insiden tersebut.

Selanjutnya Nerazzurri masih menguasai jalannya laga, meski begitu anak asuh Jose Mourinho tak mampu menciptakan peluang matang apalagi mencetak gol.

Lebih sering ditekan, di menit 66 MU malah membuat Interisti menahan napas kala umpan yang disodorkan Ronaldo dari sisi kanan gagal diserobot Park sambil yang datang sambil menjatuhkan diri di muka gawang. Giigs yang berdiri di tiang jauh juga tak bisa berbuat banyak karena bola yang mengarah padanya keburu dihalau Zanetti.

Giggs dan Berbatov bergantian mengancam gawang Inter di menit 73 dan 75. Kalau sepakan sang winger diblok Ivan Cordoba di tengah kotak penalti, tendangan keras Berbatov dari sudut sempit cuma menyentuh sisi luar jala gawang.

Di jelang akhir laga Rooney memiliki peluang saat dia berhasil memenangi sprint melawan bek Inter, namun Cesar yang keluar dari sarangnya dengan sigap menghalau bola. Sementara upaya Stankovic yang melepaskan tendangan spekulasi dari luar kotak penalti tak membuahkan apapun karena si kulit bundar melayang jauh di atas mistar.

Di menit terakhir masa injury time MU punya peluang untuk pulang membawa pulang kemenangan. Namun tendangan bebas Ronaldo di luar kotak penalti tepat mengarah ke Cesar yang sukses menghindarkan gawangnya dari kebobolan di penghujung laga.

Susunan Pemain
Inter Milan: Julio Cesar, Cristian Chivu, Nelson Rivas (Ivan Cordoba '45), Esteban Cambiasso, Davide Santon, Maicon, Dejan Stankovic, Sulley Muntari (Julio Cruz '76), Javier Zanetti, Adriano (Mario Balotelli '77), Zlatan Ibrahimovic

MU: Edwin van der Sar, Jonathan Evans, Rio Ferdinand, Patrice Evra, John O'Shea, Darren Fletcher, Michael Carrick, Ji-Sung Park (Wayne Rooney '84), Cristiano Ronaldo, Dimitar Berbatov, Ryan Giggs

Sunday, February 22, 2009

Pekan 25 : INTER SEMAKIN DEWASA

BOLOGNA - Inter Milan semakin memantapkan posisinya di puncak klasemen Serie A dan memperbesar kans mempertahankan gelar Scudetto musim ini. Itu setelah pada giornata ke-25, Minggu (22/2/2009) dinihari tadi Nerazzurri sukses menundukkan tuan rumah Bologna 2-1 di Stadion Renato Dall'Arra.

Ya, kemenangan atas Bologna memang terus membawa skuad asuhan Jose Mourinho semakin perkasa di puncak klasemen. Saat ini, Inter mengoleksi 59 poin dari 25 laga atau untuk sementara berhasil memperbesar keunggulan atas runner-up Juventus yang baru akan memainkan laga, Minggu (22/2/2009) malam.

Sementara bagi Rossoblu, kekalahan ini memang untuk sementara tak membuat posisi tim arahan Sinisia Mihajlovic bergeser dari posisi 16 klasemen sementara. Namun, dengan raihan 23 poin, posisi Bologna terancam di gusur penghuni posisi 17, Lecce yang hanya terpaut satu poin.

Sejak pertandingan dimulai, Inter yang tetap menurunkan formasi lini depan sama seperti saat membekap AC Milan, pekan lalu dengan duet Adriano dan Zlatan Ibrahimovic suskes memperoleh beberapa peluang.

Baru dua menit laga berjalan duet maut Ibra-Adri langsung mengancam pertahanan Bologna. Sayang, tendangan kaki kiri Ibra setelah memanfaatkan umpan manis Adriano masih mampu diredam Francesco Antonioli.

Pada menit ke-9 & 10, Ibra dan Muntari kembali mendapat peluang emas. Sayang, usaha kedua pemain itu masih mentah di tangan Antonioli. Bologna sendiri bukan tanpan peluang. Kendati terus dipaksa bermain bertahan, namun Rossoblu berhasil sesekali mengancam gawang Juliio Cesar lewat bomber andalannya Marco Di Vaio.

Peluang demi peluang yang didapatkan kedua tim memang sukses membuat jalannya pertandingan menjadi sangat menghibur bagi penonton yang hadir. Sayang, gagalnya kedua tim memaksimalkan peluang memaksa bebak pertama berakhir tanpa gol alias 0-0.

Memasuki babak kedua, Inter langsung tancap gas dan kembali mengobrak-abrik pertahanan Bologna. Hasilnya, sepuluh menit setelah jeda, Inter akhirnya bisa membuka keunggulan 1-0 melalui gol Esteban Cambiasso.

Berawal dari tendangan sudut yang dieksekusi Douglas Maicon, Adriano yang melompat di dalam kotak penalti berhasil menyundul bola hingga jatuh ke hadapan Cambiasso yang langsung melepaskan tendangan terarah dari jarak dekat tanpa mampu dibendung Antonioli.

Tertinggal satu gol, Miha (sapaan akrab Mihajlovic) menginstruksikan anak asuhnya untuk bermain lebih lepas dan keluar menyerang. Strategi pelatih yang notabene mantan asisten pelatih dan pemain Inter itu terbukti tepat.

Pasalnya, pada menit ke-79, Bologna berhasil menyamakan kedudukan lewat aksi Miguel Britos. Memanfaatkan umpan sudut Valiani, Britos sukses melepaskan sundulan keras yang menembus gawang Cesar, meski sempat dihalau Cambiasso. 1-1 kedudukan kembali imbang.

Namun, keberhasilan Bologna menyamakan kedudukan taj bertahan lama. Pasalnya, dua menit berselang, Mario Balotelli yang baru masuk menggantikan Maxwell sukses menjadi pahlawan kemenangan Inter. Memanfaatkan umpan tendangan bebas Patrick Vieira, bomber yang baru terbebas dari sanksi itu sukses memperdaya Antonioli dan membawa timnya kembali unggul 2-1.

Di sisa sepuluh menit pertandingan, Inter terus berusaha memperbesar keunggulan, sementara Bologna juga terus berupaya menyelamatkan muka dari kekalahan di kandang. Namun sayang, hingga laga usai kedua tim gagal menambah gol. Alhasil kemenangan 2-1 menjadi mutlak milik Inter Milan.

Susunan Pemain:

Bologna: F. Antonioli, Christian Zenoni, S. Lanna, V. Moras, Miguel Britos, G. Mudingayi, S. Volpi, D. Bombardini/Adailton, F. Valiani/M.Marazzina, N. Mingazzini, M. Di Vaio.

Inter Milan: Julio Cesar, I. Cordoba, Maxwell/M. Balotelli, Maicon, W. Samuel, D. Santon, E. Cambiasso, J. Zanetti, S. Muntari/D. Stankovic, Adriano/P. Vieira, Z. Ibrahimovic.

Monday, February 16, 2009

Derby d'Italia

Dari Lapangan ke Parlemen

Duel Internazionale versus AC Milan selalu penuh gengsi. Tapi, jangan langsung berasumsi bahwa I Rossoneri merupakan musuh bebuyutan bagi kubu Inter. Faktanya, gengsi akan berlipat ganda jika pasukan I Nerazzurri sukses memecundangi Juventus.

Adalah jurnalis olahraga terkenal Italia, Gianni Brera, yang pertama kali menggunakan istilah derby d’Italia pada 1967 untuk mendeskripsikan betapa panas pertarungan Inter melawan Juventus. Kedua kubu merupakan klub paling sukses di Italia.

Sebelum terjadinya skandal calciopoli pada 2006, Juventus dan Inter adalah dua klub yang sama sekali belum pernah terdegradasi ke Serie B. Milan sudah dua kali terdepak dari Serie A pada era 1980-an.

Berbeda dengan Milan, yang dahulu terkesan lebih eksklusif, Inter dan Juventus punya pendukung dari hampir seluruh penjuru Italia. Ambisi untuk menjadi penguasa di Italia pun menjadi latar belakang perseteruan kedua klub.

Bahkan, sayap kiri legendaris Inter, Mario Corso, pun mengakui bahwa dirinya merasakan kepuasan lebih ketika menang atas Juventus.

“Laga derby penting bagi Inter. Namun, sejarah menunjukkan bahwa gengsi akan semakin meningkat ketika menghadapi Juventus,” ucap Corso.

“Pada 1965, kami menang 2-0 serta mengalahkan Milan merebut gelar juara. Saya mencetak gol dan itu adalah kenangan istimewa. Namun, melawan Juventus, selalu ada perasaan marah dan akan lebih menyakitkan jika kami kalah dari mereka,” lanjut pesepakbola yang memperkuat Inter mulai 1958 hingga 1973 tersebut.

Dengan latar belakang seperti itu, tak heran jika pertemuan Inter dan Juve kerap dibumbui perkelahian antarpemain. Pada Desember 2000, terjadi adu jotos antara Paolo Montero (Juventus) dan Luigi di Biagio (Inter). Zlatan Ibrahimovic, yang kala itu memperkuat Juventus, juga sempat memukul bek Inter, Ivan Cordoba, dan menanduk Sinisa Mihaljovic pada 2005.

Ironisnya, perseteruan bukan hanya terjadi di lapangan hijau, tapi juga di parlemen Italia. Pada 1998, dua anggota parlemen berjibaku di ruang sidang gara-gara berdebat tentang keputusan kontroversial wasit Piero Ceccarini, yang tidak memberikan penalti bagi Inter setelah bek Juventus, Mark Iuliano. melakukan pelanggaran.

Insiden-insiden tersebut menunjukkan bahwa sebenarnya Inter punya dua musuh berat di Italia, Milan dan Juventus. Fakta ini menjadi bumerang bagi La Beneamata.

Energi Inter tersedot habis sehingga tidak mampu mengalahkan kedua rivalnya. Berdasarkan statistik, Inter hanya mampu memetik 66 kemenangan dan 51 hasil seri dalam 209 partai di semua kompetisi melawan Juventus. Melawan Milan, Inter hanya mencetak 91 kemenangan dan 72 hasil seri di 269 laga di semua kompetisi.


Memori 1960/61

Hampir setengah abad berlalu, baik suporter maupun pemain Internazionale masih sulit melupakan momen menyakitkan di musim 1960/61. Kemarahan dipicu sikap Federasi Sepakbola Italia (FIGC) yang tidak konsisten plus rasa malu akibat kekalahan telak 1-9 secara tak langsung memperuncing perseteruan Inter versus Juventus.

Peristiwa berawal dari insiden penyerbuan penonton ke dalam lapangan pada partai pekan ke-28 Liga Italia antara Juve melawan Inter, 16 April 1961. Setelah sempat dihentikan selama 30 menit, FIGC memastikan pertandingan tidak dapat diteruskan.

Juventus sebagai tuan rumah dianggap bersalah karena tidak mampu menjaga keamanan stadion. Alhasil, Inter mendapat kemenangan mutlak 2-0.

Masalah selesai? Tidak juga karena beberapa hari kemudian FIGC mengubah keputusan dan menyatakan bahwa partai harus diulang pada 10 Juni 1961.

Sebagai bentuk protes atas keputusan tersebut, Inter sengaja menurunkan seluruh pemain junior dalam laga berikutnya melawan Juventus. Hasilnya, mereka kalah telak 1-9.

Mesin gol asal Argentina, Omar Sivori, menyumbangkan enam gol bagi Juventus. Yang lebih menyakitkan lagi, kubu La Vecchia Signora berhasil merebut scudetto sekaligus memupus harapan Inter yang musim itu hanya bertengger di posisi ketiga klasemen akhir Serie A.

Inter baru bisa membalaskan dendam mereka dua musim kemudian. Pada 1962/63, Inter menaklukkan Juventus di partai kandang dan tandang serta meraih gelar juara Liga Italia ke-8.

Rivalitas Inter dan Milan

Gara-gara Stranieri

Derby della Madonnina ada di depan mata. Inilah persaingan antara dua tim sekota, Internazionale Milan dan AC Milan. Rivalitas mereka selalu panas. Atmosfer ini tidak mengherankan karena permusuhan keduanya juga diawali sebuah perselisihan.

Awalnya tidak ada Inter dan Milan. Yang ada hanya Milan, klub yang didirikan Alfred Edwards pada 16 Desember 1899. Pada tahun 1908 timbul perpecahan. Sekelompok orang Italia dan Swiss, yang menjadi pengurus klub, tidak senang melihat dominasi pemain asal Italia di dalam skuad I Rossoneri.

Mereka ingin klubnya menerima lebih banyak stranieri alias pemain asing. Pendapat itu ditolak Milan. Akibatnya, para pemberontak ini memisahkan diri dan membentuk Inter.

Rivalitas muncul dan terasa panas karena Milan menganggap Inter adalah pengkhianat. Sebaliknya, Inter juga selalu berusaha menjadi oposisi yang berseberangan dengan Milan.

I Nerazzurri memilih kostum berwarna biru, yang dikenal sebagai anti-merah, warna seragam Milan. Sesuai dengan sejarah, Inter sampai sekarang didominasi oleh stranieri. Sebaliknya, Milan masih punya sejumlah Italiano penentu.

Ketika Milan memiliki trio Belanda, Ruud Gullit-Marco van Basten-Frank Rijkaard, Inter langsung menandingi dengan trio Jerman: Andreas Brehme-Lothar Matthaeus-Juergen Klinsmann. Ini jelas indikasi persaingan karena di era 1980 dan 1990-an, Belanda-Jerman adalah dua musuh bebuyutan.

Karena rivalitas ini, derby della Madonnina menjadi sebuah partai yang seru. Nama Madonnina sendiri diambil dari salah satu landmark utama kota Milano, yaitu patung Bunda Maria di atas Katedral Milano, yang biasa disebut Madonnina.

Persaingan antara Inter dan Milan bahkan pernah meracuni tim nasional Italia. Di era keemasan Sandro Mazzola di Inter dan Gianni Rivera di Milan, mereka nyaris tak pernah main bareng di tim nasional.

Kalau Mazzola main, Rivera cadangan. Begitu pula sebaliknya. Terkadang, dua pemain ini saling menggantikan di tengah pertandingan. Kekalahan Italia dari Brasil di Piala Dunia 1970 disebut-sebut karena rivalitas ini. Mazzola menjadi starter dan Rivera baru masuk di menit ke-88, padahal skill individu Rivera dipandang mampu menyulitkan Brasil.

Beda Gaya

Rivalitas Mazzola-Rivera, yang menjadi simbol persaingan antara Inter dan Milan, akhirnya terbawa sampai sekarang dalam bentuk perbedaan karakter permainan kedua tim.

Mazzola adalah produk Helenio Herrera, pelatih Inter di era 1960-an yang dikenal sebagai penemu catenaccio atau pertahanan gerendel. Sebaliknya, Rivera dibentuk oleh Nereo Rocco, pelatih yang mementingkan sepakbola indah kendati ia juga sedikit menganut taktik catenaccio.

Inter di tangan Herrera dikenal sebagai La Grande, tim terbaik yang pernah dimiliki La Beneamata. Wajar apabila karakter permainan Inter selalu dikaitkan dengan tim tersebut. Citra Inter sebagai tim pengusung catenaccio terpatri sampai sekarang.

Di lain pihak, Milan memuja sepakbola indah. Karakter itu kian jelas setelah Silvio Berlusconi menjadi presiden. Milan selalu mencoba mengumpulkan pemain terbaik dengan harapan mereka menghadirkan sepakbola indah.


Batas Itu Kian Tipis

Brianza Alcoolica adalah salah satu tifosi ultras berhaluan kanan, nasionalis, yang sejak awal 70-an terus mendukung Inter dalam masa pasang dan surut. Menurut Avanti!, dominasi dalam kelompok suporter itu, sejak Massimo Moratti mengambil alih kendali klub dari Ernesto Pellegrini di 1995, tak lagi milik kaum borjuis Milano.

Sejumlah kelas pekerja asal Selatan yang kini sukses menjadi pengusaha pun masuk ke dalamnya sebagai ajang menjalin perkongsian bisnis. Alhasil, kini tak ada lagi batasan jelas antara warga kota yang mendukung Inter dan AC Milan.

Dalam sebuah entitas bisnis di Milano dulu ada pengotak-kotakan antara perusahaan berbendera La Beneamata dan perusahaan yang mengusung panji Rossoneri. Kini, sebuah galeri penjual adibusana yang dipimpin anggota Brianza Alcoolica bisa memesan makanan dari perusahaan katering yang jelas-jelas dikuasai para pentolan Brigate Rossonere.

Hal ini jelas terkait langsung dengan perubahan yang dibawa Silvio Berlusconi, seorang tokoh nasionalis, di Milan. Sejak sang politikus berkuasa di Rossoneri, kesan bahwa para kelas pekerja yang mendukung Milan adalah kaum sosialis sayap kiri yang egaliter pun menguap.

Secara politis, batasan kiri dan kanan antara pendukung kedua kubu pun menipis. Tidak heran bila akhirnya banyak spanduk-spanduk di derby della Madonnina kini lebih bernapaskan ejekan humoris ketimbang tantangan-tantangan yang memojokkan suporter lawan.

Selain itu, sejalan dengan kebangkitan Inter dalam tiga musim terakhir, ejekan lewat nyanyian tifosi Milan berjudul Luglio Agosto pun berkurang.

Dulu nyanyian yang secara harafiah berarti “Juli-Agustus” itu dikumandangkan untuk mengejek kubu Beneamata, yang kerap bermimpi menjadi juara sebelum musim baru bergulir, tapi kemudian justru Milan atau Juventus yang mencuat meraih scudetto.

Beda Arah Kebencian

Sejumlah filsuf kesohor meyakini cinta sebagai energi terkuat di alam semesta, namun vandalisme yang amat merusak juga kerap lahir dari sebuah kebencian yang meluap-luap. Harapan tinggi pendukung Inter terhadap klub favoritnya pun kerap menjadi bumerang bagi sejumlah pemain karena cinta mendadak berubah menjadi kebencian.

Ketika di 2000/01 Inter menorehkan rekor buruk di San Siro, mereka bahkan melakukan pengrusakan di dua restoran besar di Milano. Selidik punya selidik, ternyata dua rumah makan itu milik Christian Vieri dan Fabio Cannavaro, dua pilar Nerazzurri yang dianggap bertanggung jawab atas hasil-hasil buruk saat itu.

Kebrutalan sejumlah oknum di tengah tifosi Milan pun sering terjadi. Insiden yang paling terkenal adalah saat pendukung Genoa, Vincenzo Spagnolo, tewas ditikam seorang pendukung Rossoneri pada Januari 1995.

Namun, berbeda dengan pendukung Inter yang tega meneror pemainnya sendiri, tifosi Milan lebih mengarahkan aksi anarkistisnya pada pihak lawan.

Tak pernah terbayangkan bila Kaka Izecson sampai diteror karena hampir memutuskan pindah ke Manchester City pada bulan lalu. Gelandang elegan asal Brasil itu bahkan mendapatkan aplaus hangat di akhir laga sebagai ungkapan apresiasi dan ucapan selamat jalan ketika isu soal pinangan City kian memuncak.

Terlepas dari fakta bahwa Berlusconi ikut campur tangan dan pihak City kemudian mundur teratur, bertahannya Kaka di Milan juga tak lepas dari permintaan simpatik segelintir tifosi agar dirinya tetap bertahan. Mereka tidak peduli dengan fakta bahwa pemain berumur 26 tahun itu belum berhasil mengembalikan Rossoneri ke kondisi puncaknya saat ini.

Kehadiran Trio Belanda dan Jerman
Bumbu Penyedap Rivalitas

Total 27 gelar mutlak menandakan bahwa Juventus adalah penguasa tunggal Seria A sejak liga profesional Italia itu pertama kali digulirkan musim 29/30. Duet sekota, AC Milan dan Internazionale, menempuh segala cara untuk memutus dominasi Super-Juve.

Ketika otoritas sepakbola Negeri Spageti membuka kran penggunaan hingga lima pemain asing setelah Perang Dunia II, pelakon derby della Madonnina ini tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Inisiatif diawali I Rossoneri, yang memboyong trio Swedia, Gunnar Gren, Gunnar Nordahl, dan Nils Liedholm.

Bagi Milan, dampaknya lang-sung terasa. Tiga sejoli yang dijuluki Grenoli itu berhasil menghadirkan scudetto pada musim 50/51. Inilah trofi perda-na Milan di era profesional dan keempat jika kita menghitung liga nonprofesional yang berpu-tar sejak 1898.

Liedholm sendiri sukses menambah koleksi pribadinya dalam tiga kesempatan ke depan sebelum hijrah pada akhir 1961. Gren hengkang lebih dulu pada 1953, sedangkan Nordhal hengkang pada pengujung musim 55/56, tapi tidak sebe-lum ia mengapteni I Diavolo Rosso sekaligus mengukir rekor gol abadi klub berkat catatan 221 gol dalam 268 laga.

Setelah sukses musim 67/68 sampai medio 1986, di mana Milan nyaris dinyatakan bangkrut akibat kaburnya Giuseppe Farina, presiden klub, yang membawa serta duit kas ke Afrika Selatan, Milan mengalami era kegelapan. Bayangkan saja, cuma sebiji gelar Serie A (78/79) mampu dipetik!

Beruntung mereka punya tifosi fanatik bernama Silvio Berlusconi. Selain mau mengge-lontorkan uang guna membeli Milan pada musim panas 1986, pengusaha pertelevisian supertajir ini juga memiliki visi menghidupkan kembali filosofi trio asing sebagai kunci keberhasilan San Siro.

Berlusconi mengawalinya dengan menghadirkan Ruud Gullit dan Marco van Basten pascasukses mereka di PSV Eindhoven dan Ajax Amsterdam pada 1987. Lalu menambahkan Frank Rijkaard setelah De Oranje mencaplok gelar Euro 1988. Dari titik ini, Milan kemudian tak hanya merajai Ranah Italia, tapi juga benua Eropa.

Publik mencoba menyangkal bahwa kesuksesan Milan di Benua Biru adalah karena absennya klub-klub Inggris di kancah Piala Champion menyusul tragedi Heysel. Namun, tanpa kiprah legiun Premier League pun trio Milan ini tetap mampu membuktikan bahwa mereka punya kualitas di atas kontingen liga besar lain.

Inter sempat “latah” dengan mencoba mengopi cetak biru tetangganya. Bedanya, trio yang didatangkan Presiden Ernesto Pellegrini berasal dari Jerman. Layaknya Berlusconi, yang kesengsem dengan aksi pilar-pilar Belanda di Euro ’88, Pellegrini justru tertarik pada peran tiga lelaki Der Panzer, Lothar Matthaeus, Andreas Brehme, dan Juergen Klinsmann.

Seperti trio Belanda di Milan, trio Jerman milik Inter pun berhasil mendatangkan gelar instan di level Serie A (88/89). Sialnya, inilah satu-satunya trofi liga domestik mereka. Ketiganya cuma bisa menambahkan sebiji Supercoppa dan satu Piala UEFA. Bagi kebutuhan klub, kinerja tiga serangkai Milan jelas jauh lebih memukau ketimbang milik I Nerrazzuri. Tapi, bagi penikmat sepakbola secara luas, kehadiran tiga pria asing di derby della Madonnina merupakan bumbu penyedap rivalitas.


Perpindahan Pemain Milan-Inter
Serena Paling Nyeleneh

Rivalitas antara Inter dan Milan memang membuat kedua kubu bermusuhan. Tapi, itu tidak menghalangi para pemain dua klub ini untuk saling menyeberang membela sang rival.

Sejak tercipta derby Milan pada 1908, yang juga bertepatan dengan tahun kelahiran Inter, tercatat sudah 32 nama pemain yang pernah memperkuat dua tim seteru abadi ini.

Sosok tenar macam Francesco Toldo, Roberto Baggio, atau Patrick Vieira bisa menjadi contoh. Namun, jika kembali disaring, terdapat 12 pemain yang punya nyali besar untuk langsung melompat ke tim tetangga.

Pelopornya siapa lagi kalau bukan Giuseppe Meazza. Pada musim 1940-41, penyerang tajam Nerazzurri dan tim nasional Italia ini pindah ke sisi merah kota Milan. Peppino hanya bertahan dua musim sebelum memperkuat Juventus, Varresse, Atalanta, dan kembali ke Inter untuk pensiun.

Namun, yang paling nyeleneh adalah Aldo Serena. Punggawa Si Hitam-Biru saat meraih scudetto '89 ini tercatat tiga kali bolak-balik antara dua tim tersebut (1982, 83, dan 91).

Bahkan Serena seperti ketagih an dengan aroma derby saat memperkuat dua tim kota Turin, Torino (84-85) dan Juventus (85-87).


Skandal Calciopoli
Dongkrak Mentalitas Inter

Tak bisa ditampik bahwa kemunculan skandal calciopoli di pengujung musim 05/06, yang kemudian menjadikan lima klub Serie A sebagai pelaku utama, adalah berkah terselubung bagi Internazionale Milano. Bagaimana tidak? Gelar perdana setelah berpuasa selama 16 tahun tersaji dengan cuma-cuma di lemari kaca I Nerrazurri.

Di dalam lubuk hatinya, tentu personel Inter maupun legiun Interisti tak berkenan dengan status juara lewat jalur previlese dari pihak FIGC ini. Namun, tak tertutup kemungkinan juga bahwa ada banyak tifosi yang kurang peduli dengan “keabsahan” scudetto Inter.

Dalam puluhan tahun ke depan, saat kita membuka lembaran sejarah sepakbola Ranah Spageti, nama Inter tetap akan tercatat sebagai juara Serie A musim 05/06. Yang harus diacungi jempol adalah bagaimana Inter lantas bereaksi atas keuntungan yang mereka dapatkan ini.

Alih-alih berleha-leha, di musim-musim berikutnya Inter malah terus menggebrak. Dua gelar beruntun mampu mereka sabet sehingga selisih trofi antara mereka dengan rival sekota, AC Milan, tinggal satu.

Memang, gelar 06/07 sedikit “cacat” karena Juve tengah “melanglangbuana” di Serie B dan Milan memulai musim dengan minus delapan poin. So, lawan sepadan yang bisa mengganggu laju kereta cepat Inter praktis tinggal AS Roma dan Fiorentina.

Kendati begitu, scudetto di musim lalu melenyapkan segala pandangan skeptis akan kehebatan asli Inter. Di saat Juve dan Milan sedang berada dalam level yang sama, dengan materi yang nyaris sama pula, Zlatan Ibrahimovic dkk. tetap bertengger di puncak klasemen.

Ketangguhan armada yang mulai musim ini ditukangi Jose Mourinho bahkan belum menunjukkan tanda-tanda ingin menginjak rem. Hingga giornata 23, keunggulan telak tujuh poin masih bisa mereka ciptakan. Ini bukti Inter memang bermental kampiun.

Setidaknya, dalam cakupan derby della Madonnina, yang mempertemukan mereka head to head dengan Milan, sejak skandal calciopoli, Inter terbukti jumawa di hadapan rival sekotanya itu.

Buktinya kemenangan home and away mampu dicetak pada musim 06/07. Derby lalu dibagi rata 1-1 di musim 07/08. Sementara itu, Milan masih unggul di pertemuan pertama musim 08/09 ini, sebelum bentrokan kedua mentas weekend nanti.

Secara overall, Inter masih unggul 3-2. Artinya apa? Secara tak langsung, keuntungan ber-kat calciopoli berimbas positif pada sisi psikologis Inter kala bersua musuh abadinya.


Penyebutan Nama Stadion
Tergantung Merah atau Biru

Tidak perlu bingung menyebut kandang AC Milan dan Inter dengan Stadion San Siro atau Giuseppe Meazza. Keduanya memang nama untuk objek yang sama.

Awalnya, stadion yang mulai digunakan pada 1926 dengan kapasitas 35 ribu orang ini bernama San Siro untuk menghormati sebuah gereja di kota Milan. Namun, pada 1979 kedua tim sepakat mengubahnya dengan menggunakan nama legenda Italia sekaligus kedua kubu yang saat itu baru meninggal.

Sayang Milanisti ternyata tidak senang nama kandang kebanggaannya itu berubah. Maklum, meski pernah berkostum merah Rossoneri (1940-42), nama sang penyerang lebih melegenda bersama rivalnya itu.

Selama 14 tahun menjadi punggawa Nerazzurri, Meazza mampu menyumbang berbagai trofi (Serie A 1930, 38, 40; Coppa Italia 39). Bandingkan dengan torehannya di Milan, yang hanya sekali runner-up Coppa Italia (1942).

Tak hanya itu. Tifosi Milan pasti terusik mengingat mereka sudah menempati stadion yang dibangun presiden ketiga mereka, Piero Pirelli, sejak pertama berdiri (1926). Inter baru berkandang di stadion ini pada 1949.

Karena itu, mereka memilih untuk tetap menyebut San Siro ketimbang Giuseppe Meazza, yang menjadi pilihan Interisti.

Jadi, penyebutan stadion ini bergantung pada apa “warna” Anda, merah atau biru.

INTER MENANGI DERBY



MILAN - AC Milan gagal mengulang suksesnya pada derby Della Madonnina jilid I menghadapi Inter Milan, September silam. Pada laga di Giuseppe Meazza Senin (16/2/2009) dinihari, Rossoneri harus takluk 1-2 dari Inter.

Dengan kekalahan ini, Milan tetap terpaku di posisi tiga klasemen sementara dengan 45 poin, hasil 24 laga. Kekalahan ini juga semakin memudahkan jalan Inter mempertahankan gelar Scudetto yang keempat secara beruntun.

Inter kini semakin mantap di puncak klasemen dengan poin 56, atau unggul sembilan angka dari Juventus di posisi dua dan 11 angka dari Milan.
Sejak wasit Roberto Rosetti meniup peluit tanda dimulainya laga, baik Inter maupun Milan langsung menampilkan permainan menyerang dan terbuka. Peluang pertama didapatkan Inter Milan melalui bomber andalannya Zlatan Ibrohimovic di menit pertama laga.

Sayang, sundulan Ibra setelah memanfaatkan umpan Esteban Cambiasso masih melambung di atas mistar. Nerazzurri kembali memiliki peluang emas untuk membuka keunggulan melalui Dejan Stankovic di menit ke-18. Sayang, Stankovic yang sudah berdiri bebas dan berhadapan satu lawan satu dengan Christian Abbiati gagal memanfaatkan peluang setelah bola yang dikuasainya berhasil di curi Massimo Ambrosini.

Serangan balik cepat yang dibangun para pemain Inter akhirnya membuahkan hasil. Adalah Adriano yang berhasil membuka keunggulan tuan rumah di menit ke-29. Bomber asal Brasil itu sukses menanduk bola hasil umpan silang Douglas Maicon dan menjebol gaawang Abbiati.

Gol Adriano ini memang sempat diprotes Abbiati yang melihat bomber raksasa itu mencetak gol dengan tangan. Namun apapun keluhan Abbiati wasit tetap memberikan gol bagi Inter. 1-0 untuk Nerazzurri. Menjelang akhir babak pertama, Inter kembali membuat fansnya bergemuruh. Stankovic yang berhasil menerima umpan manis Ibra, berhasil melepaskan tembakan first time yang tak mampu dibendung Abbiati. Keunggulan 2-0 Inter bertahan hingga jeda.

Di sisa waktu babak 2 , Milan berusaha keras menyamakan kedudukan melalui peluang yang diperoleh Pato, Seedorf dan Inzaghi. Sayang, hingga wasit meniup peluit tanda berakhirnya laga, Milan harus mengakui ketangguhan saudara mudanya tersebut dan harus menyerahkan kemenangan di derby Della Madonnina jilid II itu ke tangan Inter Milan (1-2).
Tambahan tiga angka membuat Javier Zanetti dkk mengoleksi 56 poin, unggul sembilan angka atas Juventus. Sedangkan Milan sendiri tercecer 11 angka.

"Masih ada 33 poin yang tersedia. Jalannya masih panjang. Saya tidak dapat berkata dan berpikir, maka perburuan Scudetto berakhir. Bisa dikatakan bahwa jika kami tidak menang maka gelar akan pergi. Sekarang ada di tangan kami," kata Mourinho usai laga seperti dilansir channel-4."Malam ini sangat penting, karena kami memberikan kesempatan untuk meninggalkan Juventus dan Milan. Kami menjauh dalam psikologis yang sulit," lanjut mantan pelatih FC Porto dan Chelsea itu.

"Posisi kami di puncak klasemen Serie A bukan apa-apa. Semua pihak harus mengerti hal ini, setidaknya kita masih harus mengumpulkan 30 poin lagi," ungkap Ibra.
"Saya tidak memungkiri kalau kemenangan atas Milan memiliki arti yang sangat penting buat perjalanan tim. Namun, hal itu hendaknya jangan sampai membuat kita lupa diri," tandasnya lagi seperti dilansir AP, Senin (16/2/2009).

Gegap gempita menyambut kemenangan 2-1 Inter Milan atas rival satu kotanya AC Milan terus membahana, namun ketika Nerazzurri di sebut-sebut sudah hampir menggengam gelar Scudetto, penyerang andalan mereka Zlatan Ibrahimovic menolak.

"Posisi kami di puncak klasemen Serie A bukan apa-apa. Semua pihak harus mengerti hal ini, setidaknya kita masih harus mengumpulkan 30 poin lagi," ungkap Ibra. Walaupun demikian, Ibra sama sekali tidak mengecilkan arti kemenangan timnya atas pasukan Rossonerri. Baginya, kemenangan tersebut sangat penting buat perjalanan timnya kedepan.

"Saya tidak memungkiri kalau kemenangan atas Milan memiliki arti yang sangat penting buat perjalanan tim. Namun, hal itu hendaknya jangan sampai membuat kita lupa diri," tandasnya lagi seperti dilansir AP, Senin (16/2/2009).

Ibra juga dengan bangga menyebut kemenangan yang mereka raih merupakan sebuah bukti nyata kekuatan La Baneamata. Bahkan, dia menyatakan kalau pasukan Jose Mourinho bisa saja membuat gol lebih banyak lagi. "Ini adalah bukti determinasi Inter di Serie A. Kami sebenarnya punya kesempatan membuat gol lebih banyak, namun Milan juga yang cukup tangguh, mereka bisa mengatasi tekanan itu," tutup bomber Swedia itu.

Monday, February 09, 2009

Pekan 23 : Inter Belum Goyah


LECCE - Inter Milan mengukuhkan diri sebagai pemuncak klasemen sementara Serie A, musim 2008/2009. Jose Mourinho pantas puas, anak-anak buahnya mantap menggasak tim tuah rumah Lecce 3-0 di Giornata 23, Minggu (8/2/2009).

Adalah Zlatan Ibrahimovic, bintang veteran Luis Figo dan Dejan Stankovic menjadi bintang lapangan, pagi ini.

Ibrahimovic membuka kekuatan Nerazzurri dengan menggeber formasi Simone Tirribocchi dkk sat 12 menit babak pertama baru berjalan. Gol pembuka yang diciptakannya usai memainkan umpan Cambiasso menjadi koleksi ke 14 dari 22 penampilannya di Serie A, musim ini.

Sayang, Inter hampir kebobolan di menit 19. Namun, kepiawaian Julio Cesar sukses menyelamatkan gawang Inter dari lesakan bek Lecce Guglielmo Stendardo.

Inter yang sukses mengendalikan jalannya pertandingan hanya bisa mengakhiri babak pertama dengan kemenangan 1-0.

Memasuki babak kedua, tim tuan rumah mulai mengerahkan seluruh tenaga. Betapa tidak, beberapa peluang emas yang diciptakan Maicon gagal dikemas manis anak-anak Jose Mourinho.

Gol kedua baru tercipta di menit 71. Sundulan pemain veteran Portugal Luis Figo setelah memainkan umpan silang Davide Santon membuahkan gol sekaligus mengantar Inter memimpin 2-0.

Berselang 10 menit, giliran Dejan Stankovic yang mengulang kesuksesan Figo. Kreator asal Serbia ini kembali memanfaatkan umpan silang, yang kali ini berasal dari bek Maicon. Sundulannya pun berhasil membongkar penjagaan ketat Francesco Benussi untuk kali ketiga.

Inter pun pulang dengan menggenggam tiga poin penuh.

Monday, February 02, 2009

Lagi, Inter Tersandung



MILAN - Inter Milan harus menahan malu tak mampu meraih kemenangan di Giornata ke 22, Minggu (1/2/2009). Tim kandidat zona degradasi Torino menahan Nerazzurri 1-1.

Ini artinya, Il Toro menjegal langkah Inter memperlebar jarak dari Si Nyonya Tua Juventus dan rival sekota AC Milan.
Torino berhasil menggasak tim tuan rumah sekaligus membobol gawang Julio Cesar di menit 47. Adalah sundulan striker Rolando Bianchi yang mengantar Torino memimpin pertandingan, dua menit setelah babak kedua dimulai.

Gol perdana Torino jelas membuat anak-anak Jose Mourinho kelabakan. Beberapa kali Javier Zanetti dkk mencoba merebut peluang.

Sayang, gol di kubu Inter baru tercipta pada menit 58 melalui sundulan balasan Nicolas Burdisso ke gawang yang tidak terjaga apik oleh Sereni. Inter menyamakan kedudukan 1-1. Sayang, meski beberapa kali sukses menciptakan peluang gol, angka ini ternyata tidak berubah hingga wasit meniup peluit tanda pertandingan selesai.

Hasil Lain Pekan 22 :
Juventus 2-3 Cagliari
Atalanta 1-0 Catania
Chievo 1-1 Sampdoria
Genoa 1-0 Palermo
Inter Milan 1-1 Torino
Reggina 2-2 AS Roma
Siena 1-2 Lecce
Lazio 0-3 Milan
Bologna 1-3 Fiorentina