Rivalitas Inter dan Milan
Gara-gara Stranieri
Derby della Madonnina ada di depan mata. Inilah persaingan antara dua tim sekota, Internazionale Milan dan AC Milan. Rivalitas mereka selalu panas. Atmosfer ini tidak mengherankan karena permusuhan keduanya juga diawali sebuah perselisihan.
Awalnya tidak ada Inter dan Milan. Yang ada hanya Milan, klub yang didirikan Alfred Edwards pada 16 Desember 1899. Pada tahun 1908 timbul perpecahan. Sekelompok orang Italia dan Swiss, yang menjadi pengurus klub, tidak senang melihat dominasi pemain asal Italia di dalam skuad I Rossoneri.
Mereka ingin klubnya menerima lebih banyak stranieri alias pemain asing. Pendapat itu ditolak Milan. Akibatnya, para pemberontak ini memisahkan diri dan membentuk Inter.
Rivalitas muncul dan terasa panas karena Milan menganggap Inter adalah pengkhianat. Sebaliknya, Inter juga selalu berusaha menjadi oposisi yang berseberangan dengan Milan.
I Nerazzurri memilih kostum berwarna biru, yang dikenal sebagai anti-merah, warna seragam Milan. Sesuai dengan sejarah, Inter sampai sekarang didominasi oleh stranieri. Sebaliknya, Milan masih punya sejumlah Italiano penentu.
Ketika Milan memiliki trio Belanda, Ruud Gullit-Marco van Basten-Frank Rijkaard, Inter langsung menandingi dengan trio Jerman: Andreas Brehme-Lothar Matthaeus-Juergen Klinsmann. Ini jelas indikasi persaingan karena di era 1980 dan 1990-an, Belanda-Jerman adalah dua musuh bebuyutan.
Karena rivalitas ini, derby della Madonnina menjadi sebuah partai yang seru. Nama Madonnina sendiri diambil dari salah satu landmark utama kota Milano, yaitu patung Bunda Maria di atas Katedral Milano, yang biasa disebut Madonnina.
Persaingan antara Inter dan Milan bahkan pernah meracuni tim nasional Italia. Di era keemasan Sandro Mazzola di Inter dan Gianni Rivera di Milan, mereka nyaris tak pernah main bareng di tim nasional.
Kalau Mazzola main, Rivera cadangan. Begitu pula sebaliknya. Terkadang, dua pemain ini saling menggantikan di tengah pertandingan. Kekalahan Italia dari Brasil di Piala Dunia 1970 disebut-sebut karena rivalitas ini. Mazzola menjadi starter dan Rivera baru masuk di menit ke-88, padahal skill individu Rivera dipandang mampu menyulitkan Brasil.
Beda Gaya
Rivalitas Mazzola-Rivera, yang menjadi simbol persaingan antara Inter dan Milan, akhirnya terbawa sampai sekarang dalam bentuk perbedaan karakter permainan kedua tim.
Mazzola adalah produk Helenio Herrera, pelatih Inter di era 1960-an yang dikenal sebagai penemu catenaccio atau pertahanan gerendel. Sebaliknya, Rivera dibentuk oleh Nereo Rocco, pelatih yang mementingkan sepakbola indah kendati ia juga sedikit menganut taktik catenaccio.
Inter di tangan Herrera dikenal sebagai La Grande, tim terbaik yang pernah dimiliki La Beneamata. Wajar apabila karakter permainan Inter selalu dikaitkan dengan tim tersebut. Citra Inter sebagai tim pengusung catenaccio terpatri sampai sekarang.
Di lain pihak, Milan memuja sepakbola indah. Karakter itu kian jelas setelah Silvio Berlusconi menjadi presiden. Milan selalu mencoba mengumpulkan pemain terbaik dengan harapan mereka menghadirkan sepakbola indah.
Batas Itu Kian Tipis
Brianza Alcoolica adalah salah satu tifosi ultras berhaluan kanan, nasionalis, yang sejak awal 70-an terus mendukung Inter dalam masa pasang dan surut. Menurut Avanti!, dominasi dalam kelompok suporter itu, sejak Massimo Moratti mengambil alih kendali klub dari Ernesto Pellegrini di 1995, tak lagi milik kaum borjuis Milano.
Sejumlah kelas pekerja asal Selatan yang kini sukses menjadi pengusaha pun masuk ke dalamnya sebagai ajang menjalin perkongsian bisnis. Alhasil, kini tak ada lagi batasan jelas antara warga kota yang mendukung Inter dan AC Milan.
Dalam sebuah entitas bisnis di Milano dulu ada pengotak-kotakan antara perusahaan berbendera La Beneamata dan perusahaan yang mengusung panji Rossoneri. Kini, sebuah galeri penjual adibusana yang dipimpin anggota Brianza Alcoolica bisa memesan makanan dari perusahaan katering yang jelas-jelas dikuasai para pentolan Brigate Rossonere.
Hal ini jelas terkait langsung dengan perubahan yang dibawa Silvio Berlusconi, seorang tokoh nasionalis, di Milan. Sejak sang politikus berkuasa di Rossoneri, kesan bahwa para kelas pekerja yang mendukung Milan adalah kaum sosialis sayap kiri yang egaliter pun menguap.
Secara politis, batasan kiri dan kanan antara pendukung kedua kubu pun menipis. Tidak heran bila akhirnya banyak spanduk-spanduk di derby della Madonnina kini lebih bernapaskan ejekan humoris ketimbang tantangan-tantangan yang memojokkan suporter lawan.
Selain itu, sejalan dengan kebangkitan Inter dalam tiga musim terakhir, ejekan lewat nyanyian tifosi Milan berjudul Luglio Agosto pun berkurang.
Dulu nyanyian yang secara harafiah berarti “Juli-Agustus” itu dikumandangkan untuk mengejek kubu Beneamata, yang kerap bermimpi menjadi juara sebelum musim baru bergulir, tapi kemudian justru Milan atau Juventus yang mencuat meraih scudetto.
Beda Arah Kebencian
Sejumlah filsuf kesohor meyakini cinta sebagai energi terkuat di alam semesta, namun vandalisme yang amat merusak juga kerap lahir dari sebuah kebencian yang meluap-luap. Harapan tinggi pendukung Inter terhadap klub favoritnya pun kerap menjadi bumerang bagi sejumlah pemain karena cinta mendadak berubah menjadi kebencian.
Ketika di 2000/01 Inter menorehkan rekor buruk di San Siro, mereka bahkan melakukan pengrusakan di dua restoran besar di Milano. Selidik punya selidik, ternyata dua rumah makan itu milik Christian Vieri dan Fabio Cannavaro, dua pilar Nerazzurri yang dianggap bertanggung jawab atas hasil-hasil buruk saat itu.
Kebrutalan sejumlah oknum di tengah tifosi Milan pun sering terjadi. Insiden yang paling terkenal adalah saat pendukung Genoa, Vincenzo Spagnolo, tewas ditikam seorang pendukung Rossoneri pada Januari 1995.
Namun, berbeda dengan pendukung Inter yang tega meneror pemainnya sendiri, tifosi Milan lebih mengarahkan aksi anarkistisnya pada pihak lawan.
Tak pernah terbayangkan bila Kaka Izecson sampai diteror karena hampir memutuskan pindah ke Manchester City pada bulan lalu. Gelandang elegan asal Brasil itu bahkan mendapatkan aplaus hangat di akhir laga sebagai ungkapan apresiasi dan ucapan selamat jalan ketika isu soal pinangan City kian memuncak.
Terlepas dari fakta bahwa Berlusconi ikut campur tangan dan pihak City kemudian mundur teratur, bertahannya Kaka di Milan juga tak lepas dari permintaan simpatik segelintir tifosi agar dirinya tetap bertahan. Mereka tidak peduli dengan fakta bahwa pemain berumur 26 tahun itu belum berhasil mengembalikan Rossoneri ke kondisi puncaknya saat ini.
Kehadiran Trio Belanda dan Jerman
Bumbu Penyedap Rivalitas
Total 27 gelar mutlak menandakan bahwa Juventus adalah penguasa tunggal Seria A sejak liga profesional Italia itu pertama kali digulirkan musim 29/30. Duet sekota, AC Milan dan Internazionale, menempuh segala cara untuk memutus dominasi Super-Juve.
Ketika otoritas sepakbola Negeri Spageti membuka kran penggunaan hingga lima pemain asing setelah Perang Dunia II, pelakon derby della Madonnina ini tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Inisiatif diawali I Rossoneri, yang memboyong trio Swedia, Gunnar Gren, Gunnar Nordahl, dan Nils Liedholm.
Bagi Milan, dampaknya lang-sung terasa. Tiga sejoli yang dijuluki Grenoli itu berhasil menghadirkan scudetto pada musim 50/51. Inilah trofi perda-na Milan di era profesional dan keempat jika kita menghitung liga nonprofesional yang berpu-tar sejak 1898.
Liedholm sendiri sukses menambah koleksi pribadinya dalam tiga kesempatan ke depan sebelum hijrah pada akhir 1961. Gren hengkang lebih dulu pada 1953, sedangkan Nordhal hengkang pada pengujung musim 55/56, tapi tidak sebe-lum ia mengapteni I Diavolo Rosso sekaligus mengukir rekor gol abadi klub berkat catatan 221 gol dalam 268 laga.
Setelah sukses musim 67/68 sampai medio 1986, di mana Milan nyaris dinyatakan bangkrut akibat kaburnya Giuseppe Farina, presiden klub, yang membawa serta duit kas ke Afrika Selatan, Milan mengalami era kegelapan. Bayangkan saja, cuma sebiji gelar Serie A (78/79) mampu dipetik!
Beruntung mereka punya tifosi fanatik bernama Silvio Berlusconi. Selain mau mengge-lontorkan uang guna membeli Milan pada musim panas 1986, pengusaha pertelevisian supertajir ini juga memiliki visi menghidupkan kembali filosofi trio asing sebagai kunci keberhasilan San Siro.
Berlusconi mengawalinya dengan menghadirkan Ruud Gullit dan Marco van Basten pascasukses mereka di PSV Eindhoven dan Ajax Amsterdam pada 1987. Lalu menambahkan Frank Rijkaard setelah De Oranje mencaplok gelar Euro 1988. Dari titik ini, Milan kemudian tak hanya merajai Ranah Italia, tapi juga benua Eropa.
Publik mencoba menyangkal bahwa kesuksesan Milan di Benua Biru adalah karena absennya klub-klub Inggris di kancah Piala Champion menyusul tragedi Heysel. Namun, tanpa kiprah legiun Premier League pun trio Milan ini tetap mampu membuktikan bahwa mereka punya kualitas di atas kontingen liga besar lain.
Inter sempat “latah” dengan mencoba mengopi cetak biru tetangganya. Bedanya, trio yang didatangkan Presiden Ernesto Pellegrini berasal dari Jerman. Layaknya Berlusconi, yang kesengsem dengan aksi pilar-pilar Belanda di Euro ’88, Pellegrini justru tertarik pada peran tiga lelaki Der Panzer, Lothar Matthaeus, Andreas Brehme, dan Juergen Klinsmann.
Seperti trio Belanda di Milan, trio Jerman milik Inter pun berhasil mendatangkan gelar instan di level Serie A (88/89). Sialnya, inilah satu-satunya trofi liga domestik mereka. Ketiganya cuma bisa menambahkan sebiji Supercoppa dan satu Piala UEFA. Bagi kebutuhan klub, kinerja tiga serangkai Milan jelas jauh lebih memukau ketimbang milik I Nerrazzuri. Tapi, bagi penikmat sepakbola secara luas, kehadiran tiga pria asing di derby della Madonnina merupakan bumbu penyedap rivalitas.
Perpindahan Pemain Milan-Inter
Serena Paling Nyeleneh
Rivalitas antara Inter dan Milan memang membuat kedua kubu bermusuhan. Tapi, itu tidak menghalangi para pemain dua klub ini untuk saling menyeberang membela sang rival.
Sejak tercipta derby Milan pada 1908, yang juga bertepatan dengan tahun kelahiran Inter, tercatat sudah 32 nama pemain yang pernah memperkuat dua tim seteru abadi ini.
Sosok tenar macam Francesco Toldo, Roberto Baggio, atau Patrick Vieira bisa menjadi contoh. Namun, jika kembali disaring, terdapat 12 pemain yang punya nyali besar untuk langsung melompat ke tim tetangga.
Pelopornya siapa lagi kalau bukan Giuseppe Meazza. Pada musim 1940-41, penyerang tajam Nerazzurri dan tim nasional Italia ini pindah ke sisi merah kota Milan. Peppino hanya bertahan dua musim sebelum memperkuat Juventus, Varresse, Atalanta, dan kembali ke Inter untuk pensiun.
Namun, yang paling nyeleneh adalah Aldo Serena. Punggawa Si Hitam-Biru saat meraih scudetto '89 ini tercatat tiga kali bolak-balik antara dua tim tersebut (1982, 83, dan 91).
Bahkan Serena seperti ketagih an dengan aroma derby saat memperkuat dua tim kota Turin, Torino (84-85) dan Juventus (85-87).
Skandal Calciopoli
Dongkrak Mentalitas Inter
Tak bisa ditampik bahwa kemunculan skandal calciopoli di pengujung musim 05/06, yang kemudian menjadikan lima klub Serie A sebagai pelaku utama, adalah berkah terselubung bagi Internazionale Milano. Bagaimana tidak? Gelar perdana setelah berpuasa selama 16 tahun tersaji dengan cuma-cuma di lemari kaca I Nerrazurri.
Di dalam lubuk hatinya, tentu personel Inter maupun legiun Interisti tak berkenan dengan status juara lewat jalur previlese dari pihak FIGC ini. Namun, tak tertutup kemungkinan juga bahwa ada banyak tifosi yang kurang peduli dengan “keabsahan” scudetto Inter.
Dalam puluhan tahun ke depan, saat kita membuka lembaran sejarah sepakbola Ranah Spageti, nama Inter tetap akan tercatat sebagai juara Serie A musim 05/06. Yang harus diacungi jempol adalah bagaimana Inter lantas bereaksi atas keuntungan yang mereka dapatkan ini.
Alih-alih berleha-leha, di musim-musim berikutnya Inter malah terus menggebrak. Dua gelar beruntun mampu mereka sabet sehingga selisih trofi antara mereka dengan rival sekota, AC Milan, tinggal satu.
Memang, gelar 06/07 sedikit “cacat” karena Juve tengah “melanglangbuana” di Serie B dan Milan memulai musim dengan minus delapan poin. So, lawan sepadan yang bisa mengganggu laju kereta cepat Inter praktis tinggal AS Roma dan Fiorentina.
Kendati begitu, scudetto di musim lalu melenyapkan segala pandangan skeptis akan kehebatan asli Inter. Di saat Juve dan Milan sedang berada dalam level yang sama, dengan materi yang nyaris sama pula, Zlatan Ibrahimovic dkk. tetap bertengger di puncak klasemen.
Ketangguhan armada yang mulai musim ini ditukangi Jose Mourinho bahkan belum menunjukkan tanda-tanda ingin menginjak rem. Hingga giornata 23, keunggulan telak tujuh poin masih bisa mereka ciptakan. Ini bukti Inter memang bermental kampiun.
Setidaknya, dalam cakupan derby della Madonnina, yang mempertemukan mereka head to head dengan Milan, sejak skandal calciopoli, Inter terbukti jumawa di hadapan rival sekotanya itu.
Buktinya kemenangan home and away mampu dicetak pada musim 06/07. Derby lalu dibagi rata 1-1 di musim 07/08. Sementara itu, Milan masih unggul di pertemuan pertama musim 08/09 ini, sebelum bentrokan kedua mentas weekend nanti.
Secara overall, Inter masih unggul 3-2. Artinya apa? Secara tak langsung, keuntungan ber-kat calciopoli berimbas positif pada sisi psikologis Inter kala bersua musuh abadinya.
Penyebutan Nama Stadion
Tergantung Merah atau Biru
Tidak perlu bingung menyebut kandang AC Milan dan Inter dengan Stadion San Siro atau Giuseppe Meazza. Keduanya memang nama untuk objek yang sama.
Awalnya, stadion yang mulai digunakan pada 1926 dengan kapasitas 35 ribu orang ini bernama San Siro untuk menghormati sebuah gereja di kota Milan. Namun, pada 1979 kedua tim sepakat mengubahnya dengan menggunakan nama legenda Italia sekaligus kedua kubu yang saat itu baru meninggal.
Sayang Milanisti ternyata tidak senang nama kandang kebanggaannya itu berubah. Maklum, meski pernah berkostum merah Rossoneri (1940-42), nama sang penyerang lebih melegenda bersama rivalnya itu.
Selama 14 tahun menjadi punggawa Nerazzurri, Meazza mampu menyumbang berbagai trofi (Serie A 1930, 38, 40; Coppa Italia 39). Bandingkan dengan torehannya di Milan, yang hanya sekali runner-up Coppa Italia (1942).
Tak hanya itu. Tifosi Milan pasti terusik mengingat mereka sudah menempati stadion yang dibangun presiden ketiga mereka, Piero Pirelli, sejak pertama berdiri (1926). Inter baru berkandang di stadion ini pada 1949.
Karena itu, mereka memilih untuk tetap menyebut San Siro ketimbang Giuseppe Meazza, yang menjadi pilihan Interisti.
Jadi, penyebutan stadion ini bergantung pada apa “warna” Anda, merah atau biru.

0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home