Derby d'Italia
Dari Lapangan ke Parlemen
Duel Internazionale versus AC Milan selalu penuh gengsi. Tapi, jangan langsung berasumsi bahwa I Rossoneri merupakan musuh bebuyutan bagi kubu Inter. Faktanya, gengsi akan berlipat ganda jika pasukan I Nerazzurri sukses memecundangi Juventus.
Adalah jurnalis olahraga terkenal Italia, Gianni Brera, yang pertama kali menggunakan istilah derby d’Italia pada 1967 untuk mendeskripsikan betapa panas pertarungan Inter melawan Juventus. Kedua kubu merupakan klub paling sukses di Italia.
Sebelum terjadinya skandal calciopoli pada 2006, Juventus dan Inter adalah dua klub yang sama sekali belum pernah terdegradasi ke Serie B. Milan sudah dua kali terdepak dari Serie A pada era 1980-an.
Berbeda dengan Milan, yang dahulu terkesan lebih eksklusif, Inter dan Juventus punya pendukung dari hampir seluruh penjuru Italia. Ambisi untuk menjadi penguasa di Italia pun menjadi latar belakang perseteruan kedua klub.
Bahkan, sayap kiri legendaris Inter, Mario Corso, pun mengakui bahwa dirinya merasakan kepuasan lebih ketika menang atas Juventus.
“Laga derby penting bagi Inter. Namun, sejarah menunjukkan bahwa gengsi akan semakin meningkat ketika menghadapi Juventus,” ucap Corso.
“Pada 1965, kami menang 2-0 serta mengalahkan Milan merebut gelar juara. Saya mencetak gol dan itu adalah kenangan istimewa. Namun, melawan Juventus, selalu ada perasaan marah dan akan lebih menyakitkan jika kami kalah dari mereka,” lanjut pesepakbola yang memperkuat Inter mulai 1958 hingga 1973 tersebut.
Dengan latar belakang seperti itu, tak heran jika pertemuan Inter dan Juve kerap dibumbui perkelahian antarpemain. Pada Desember 2000, terjadi adu jotos antara Paolo Montero (Juventus) dan Luigi di Biagio (Inter). Zlatan Ibrahimovic, yang kala itu memperkuat Juventus, juga sempat memukul bek Inter, Ivan Cordoba, dan menanduk Sinisa Mihaljovic pada 2005.
Ironisnya, perseteruan bukan hanya terjadi di lapangan hijau, tapi juga di parlemen Italia. Pada 1998, dua anggota parlemen berjibaku di ruang sidang gara-gara berdebat tentang keputusan kontroversial wasit Piero Ceccarini, yang tidak memberikan penalti bagi Inter setelah bek Juventus, Mark Iuliano. melakukan pelanggaran.
Insiden-insiden tersebut menunjukkan bahwa sebenarnya Inter punya dua musuh berat di Italia, Milan dan Juventus. Fakta ini menjadi bumerang bagi La Beneamata.
Energi Inter tersedot habis sehingga tidak mampu mengalahkan kedua rivalnya. Berdasarkan statistik, Inter hanya mampu memetik 66 kemenangan dan 51 hasil seri dalam 209 partai di semua kompetisi melawan Juventus. Melawan Milan, Inter hanya mencetak 91 kemenangan dan 72 hasil seri di 269 laga di semua kompetisi.
Memori 1960/61
Hampir setengah abad berlalu, baik suporter maupun pemain Internazionale masih sulit melupakan momen menyakitkan di musim 1960/61. Kemarahan dipicu sikap Federasi Sepakbola Italia (FIGC) yang tidak konsisten plus rasa malu akibat kekalahan telak 1-9 secara tak langsung memperuncing perseteruan Inter versus Juventus.
Peristiwa berawal dari insiden penyerbuan penonton ke dalam lapangan pada partai pekan ke-28 Liga Italia antara Juve melawan Inter, 16 April 1961. Setelah sempat dihentikan selama 30 menit, FIGC memastikan pertandingan tidak dapat diteruskan.
Juventus sebagai tuan rumah dianggap bersalah karena tidak mampu menjaga keamanan stadion. Alhasil, Inter mendapat kemenangan mutlak 2-0.
Masalah selesai? Tidak juga karena beberapa hari kemudian FIGC mengubah keputusan dan menyatakan bahwa partai harus diulang pada 10 Juni 1961.
Sebagai bentuk protes atas keputusan tersebut, Inter sengaja menurunkan seluruh pemain junior dalam laga berikutnya melawan Juventus. Hasilnya, mereka kalah telak 1-9.
Mesin gol asal Argentina, Omar Sivori, menyumbangkan enam gol bagi Juventus. Yang lebih menyakitkan lagi, kubu La Vecchia Signora berhasil merebut scudetto sekaligus memupus harapan Inter yang musim itu hanya bertengger di posisi ketiga klasemen akhir Serie A.
Inter baru bisa membalaskan dendam mereka dua musim kemudian. Pada 1962/63, Inter menaklukkan Juventus di partai kandang dan tandang serta meraih gelar juara Liga Italia ke-8.

0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home